Falsafatuna bagian ke - 1

Go down

Falsafatuna bagian ke - 1

Post by adiclass on Wed Feb 21, 2018 7:30 pm

Falsafatuna (Falsafah kita) adalah buku filsafat yang membahas masalah pengetahuan dan watak alam semesta. Dengan mendasarkan pada nilai positif dan peran logika, serta menggali secara ekstensif tradisi filsafat Islam, penulis mengkritik empirisme, materialisme-dialektis, dan aliran-aliran pemikiran lain yang meruyak di dunia saat ini.

Dalam uraiannya yang jernih dan mengakar, penulis juga menekankan pentingnya logika, perlunya kausalitas dan peran pemikiran filosofis dan teologis sedemikian sehingga mampu menundukkan kekuatan-kekuatan sekularisme dan agnotisisme.


Pertarungan filosofis yang sengit sering terjadi pada ranah pengetahuan manusia, bahkan semenjak dulu kala hingga hari ini, terutama mengenai persoalan-persoalan filsafat modern. Beberapa persoalan yang menjadi perdebatan besar yaitu mengenai sumber dan asal-usul pengetahuan. Dengan meneliti, mempelajari dan mencoba mengungkapkan prinsip-prinsip priemer kekuatan struktur pemikiran yang dianugrahkan kepada manusia, maka pertanyaan-pertanyaan semisal :
Bagaimana pengetahuan muncul dalam diri manusia? Bagaimana kehidupan intelektualnya tercipta, tidak terkecuali juga mengenai setiap pemikiran dan konsep-konsep yang muncul sejak dini? Dan ‘sesuatu’ apakah yang memberikan arus pengetahuan dan pemikiran kepada manusia?
Mendekati kemungkinan untuk terjawab.

Manusia pasti memiliki berbagai macam pengetahuan dan pemikiran dalam kehidupannya. Tentu pengetahuan itu merupakan hasil dari berbagai macam pengetahuan dan pemikiran yang diperoleh dari masa sebelumnya. Maka untuk mencapai pengetahuan baru, manusia membutuhkan pengetahuan dan konsep lama yang telah dimiliki. Permasalahan kemudian adalah, bagaimana kita mampu meletakkan ‘kaki’ kita di atas garis-garis primer pemikiran dan sumber pengetahuan pada umunya.

Sebelum menjawab semua persoalan-persoalan tersebut, kita harus tahu bahwa pengetahuan (persepsi) secara garis besar, terbagi menjadi dua. Pertama adalah, konsepsi[1] atau pengetahuan sederhana.[2] Kedua, tashdiq (assent atau pembenaran),[3] yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian.[4]

Konsepsi secara sederhana dapat dicontohkan dengan penangkapan [5] terhadap pengertian mengenai apa itu suara, panas ataupun cahaya. Kemudian tasdhiq dapat dicontohkan dengan penilaian kita [6] bahwa panas adalah energi yang datang dari matahari, dan bahwa matahari lebih bercahaya daripada bulan dan bahwa atom itu dapat meledak. [7]

Konsepsi dan Sumber-Pokoknya
Kata pokok atau primer yang dimaksud pada pembahasan di atas adalah sumber hakiki bagi pengetahuan-pengetahuan sederhana. Mengenai hal ini, dalam pikiran manusia, terdapat dua konsepsi, yang pertama adalah pengertian-pengertian konseptial sederhana, contohnya seperti pengertian suara, panas, cahaya, wujud, kuning, dan konsepsi tunggal lainnya. Kemudian yang kedua, adalah pengertian-pengertian yang majemuk. Misalkan contohnya mengkonsepsikan kuda jantan dan burung terbang, maka kemudian lahirlah konsepsi baru yaitu unicorn (kuda bertanduk runcing yang memiliki sayap untuk terbang).

Konsepsi baru tersebut pada dasarnya merupakan kombinasi dari dua konsepsi sebelumnya. Begitulah konsepsi majemuk dapat berubah menjadi unit-unit konsep yang sederhana. Kita lanjutkan ke persoalan pokok yaitu sumber hakiki unit-unit tersebut serta timbulnya konsepsi sederhana itu di dalam persepsi manusia.

Permasalahan ini memiliki sejarah yang penting dalam semua periode filsafat Yunani, Eropa dan Islam. Dalam perjalananya, munculah teori-teori yang mencoba memecahkan permasalahan tersebut.

____________________________________
1. Al-tashawwur (bentuk, konsepsi).
2. Pengetahuan tanpa penilaian. Ini untuk mengatakan bahwa konsepsi adalah penang- kapan suatu objek tanpa menilai objek itu.
3. Al-tashdiq (kepercayaan, penilaian, pembenaran).
4. Bandingkan Ibnu Sina tentang konsepsi dan tashdiq dalam Ibnu Sina, Remarks and Admonitions, Bagian Pertama, “Logic”, diterjemahkan oleh Syams C. Inati, Toronto, Ontario, Kanada, Pontifical Institute of Mediaeval Studies, 1984, h. 5-6 dan 49-50.
5. Teks: ka-tashawwurina, yang kami pilih untuk diterjemahkan di sini sebagai “penangkapan” dan bukannya “konsepsi”, seperti yang kami lakukan untuk sebagian besar dalam karya ini. Hal ini karena tak akan menolong untuk mengatakan bahwa konsepsi tercontohkan dalam konsepsi.
6. Teks: ka-tashdiqina, yang kami pilih untuk diterjemahkan di sini sebagai “penilaian” dan bukannya sebagai “pembenaran”, supaya dapat menerangkan dengan lebih baik apa yang dimaksud dengan “pembenaran”.
7. Beberapa fiosof empirisis seperti John Stuart Mill (1806-1873) mempunyai teori khusus tentang tashdiq. Dengan teori khusus itu, mereka mencoba menafsirkan tashdiq dengan dua konsepsi tensosiasi. Pangkal tashdiq adalah hukum-hukum asosiasi ide-ide. Isi jiwa tak lain hanyalah konsepsi tentang subjek dan konsepsi tentang predikat. Namun, pada hakikatnya, asosiasi ide-ide itu berbeda sama sekali dengan watak tashdiq. Terkadang ia terealisasikan pada banyak lapangan yang tidak terdapat tashdiq. Misalnya, konsepsi dalam benak kita tentang tokoh-tokoh sejarah yang dinisbahi oleh mitos-mitos dengan pelbagai jenis heroisme, berkaitan dengan konsepsi tentang aksi-aksi heroik itu. Kedua konsepsi itu lalu terasosiasikan. Padahal, kita kadang sama sekali tidak membenarkan legenda-legenda tersebut. Jadi, tashdiq adaiah unsur baru yang berbeda dengan konsepsi murni. Tidak dibedakannya antara tashdiq dan tashawwur (konsepsi) dalam beberapa studi filsafat modern mendatangkan sejumlah kesalahan, dan membuat beberapa filosof mempelajari persoalan bagaimana menjustifikasi pengetahuan dan persepsi tanpa membuat garis pemisah (pembeda) antara tashawwur dan tashdiq. Anda akan mengetahui bahwa teori Islam tentang pengetahuan memisahkan antan keduanya, dan menjelaskan persoalan pada masing-masing dengan metode khusus.



sumber : alizatrianisepti.blogspot.co.id/

adiclass

Jumlah posting : 8
Join date : 19.02.18

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik