Falsafatuna bagian ke - 2

Go down

Falsafatuna bagian ke - 2

Post by adiclass on Wed Feb 21, 2018 7:36 pm

Setelah sebelumnya pada bagian ke 1 kita telah membahas mengenai konsepsi dan sumber pokoknya, maka pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai teori-teori yang mencoba memecahkan persoalan darimana asal sumber hakiki pengetahuan.

Plato - Mengulang dan Mengingat Kembali
Teori Plato berpendapat bahwa pengetahuan merupakan fungsi mengingat kembali informasi-informasi yang telah lebih dulu diperoleh.[1] (abad ke-5 SM). Mendasarkan pada filsafat mengenai ‘alam idenya’ dan keaalian jiwa [2], Plato meyakini bahwa jiwa manusia memiliki bentuk yang mapan dan berdiri sendiri, serta terlepas dari raga sebelum raga itu sendiri ada. Bagi Plato, wujud jiwa merupakan wujud yang berhubungan dengan alam ide serta merupakan realitas-realitas yang bebas dari alam materi.

Ketika Jiwa berada di alam imateri turun kedalam alam materi, maka benturan itu mengakibatkan hilangnya pengetahuan jiwa dari ‘alam ide’ dan realitas-realitas yang tetap. Lalu kemudian, jiwa memulihkan kembali pengetahuan-pengetahuannya melalui pengindraan, gagasan atau ide-ide tertentu dan hal-hal yang partikular. Karena hal tersebut merupakan pantulan bayangan dari ‘alam ide’ dan realitas azali (abadi). Ada pula orang menyebut kejadian ini sebagai de javu.

Artinya bahwa berdasarkan hal tersebut, pengetahuan kita mengenai manusia universal atau ide mengenai manusia universal, adalah pengulangan atau pengingatan kembali realitas abstrak yang telah dilupakan.

Konsepsi-konsepsi tersebut mendahului pengindraan, pengindraan tidak akan terlaksana kecuali dengan proses mencari atau mengingat-ingat kembali konsepsi yang telah ada. Pengetahuan-pengetahuan rasional tidak berkaitan dengan hal-hal partikular dalam alam indera. Tetapi, ia hanya berkaitan dengan realitas-realitas universal abstrak tersebut. Teori ini berdasarkan atas dua proposisi yaitu, pertama. Bahwa jiwa sudah ada sebelum adanya badan di alam yang lebih tinggi daripada alam materi. Kedua, bahwa pengetahuan rasional tidak lain adalah pengetahuan tentang realitas-realitas yang tetap di alam yang lebih tinggi, yang oleh Plato disebut dengan archetypes.

Para kritikus Plato menyebut bahwa kedua proposisi itu adalah salah, sebab jiwa dalam arti filosofis rasional bukan sesuatu yang maujud secara terpisah dalam bentuk yang abstrak sebelum adanya badan. Jiwa merupakan hasil gerak substansial di dalam materi hingga mengalami penyempurnaan. Dengan sarana gerak dan proses penyempurnaan inilah ia menjadi wujud immaterial, dan tidak lagi bersifat material, serta tidak tunduk pada hukum-hukum materi, meski tunduk pada hukum umum wujud. Konsep inilah yang secara rasional mampu menerangkan dan menafsirkan persoalan hubungan antara jiwa dan materi, atau jiwa dengan raga. Sedang konsep Platonik merupakan konsep yang lemah dalam menafsirkan hubungan antara jiwa dengan raga, serta ia tidak mampu menjelaskan kondisi-kondisi yang membuat jiwa turun derajatnya kedalam alam materi.

Teori Rasional
Teori ini merupakan teori dari para filosof Eropa seperti Descartes (1596-1650),[3] Immanuel Kant (1724-1804),[4] dan lain-lain. Teori-teori tersebut terangkum dalam kepercayaan adanya dua sumber bagi konsepsi. Pertama, penginderaan (sensasi). Kita mengkonsepsi panas, cahaya, rasa dan suara karena penginderaan kita terhadap semua itu. Kedua, adalah fithrah, dalam arti bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan konsepsi-konsepsi yang tidak muncul dari indera. Tetapi ia sudah ada dan tetap dalam lubuk fitrah. Jiwa menggali gagasan-gagasan tertentu dari dirinya sendiri. Menurut Descartes, konsepsi-konsepsi fitri itu adalah ide “Tuhan”, jiwa, perluasan dan gerak serta pemikiran-pemikiran yang mirip dengan semuanya itu dan bersifat sangat jelas dalam akal manusia. Adapun bagi Kant, semua bidang pengetahuan manusia adalah fitri, termasuk dua bentuk ruang dan waktu serta duabelas kategori[5] yang terkenal dari Kant.

Indera, menurut teori ini, merupakan sumber pemahaman terhadap konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan sederhana. Namun, ia bukan satu-satunya sumber. Ada juga fitrah yang mendorong munculnya sekumpulan konsepsi dalam akal sehingga mengharuskan kaum rasionalis menganut teori tersebut dalam menjelaskan konsepsi-konsepsi manusia.

Mereka tidak mendapatkan alasan munculnya sejumlah gagasan dan konsepsi dari indera, karena memang ia bukan konsepsi-konsepsi inderawi. Maka ia harus digali secara esensial dari lubuk jiwa. Dari sini, jelaslah bahwa motif filosofis bagi perumusan teori rasional ini akan hilang sama sekali, apabila kita mampu menjelaskan secara meyakinkan konsepsi-konsepsi mental, tanpa perlu mengandaikan gagasan-gagasan fitri. karenanya, teori itu dapat dibantah melalui dua cara.

Pertama, menganalisis pengetahuan sedemikian sehingga dapat menisbahkan semuanya itu kepada indera dan merumuskan pemahaman mengenai cara munculnya konsepsi-konsepsi dari indera. Analisis seperti ini akan membuat teori tentang ide fitri tak beralasan sama sekali, karena ia berdasarkan pemisahan total beberapa ide dari wilayah alam indera. Kalau kita dapat memperluas cakupan indera itu ke pelbagai wilayah konsepsi, maka tidak ada kebutuhan bagi konsepsi-konsepsi fitri. Cara inilah yang dianut oleh John Locke (1632-1704)[6] untuk membantah Descartes dan kaum rasionalis lainnya. Setelah John Locke, tokoh-tokoh empirisme, seperti Berkeley (1684-1753) [7] dan David Hume (1711-1776) [8] memakai cara tersebut.

Kedua, adalah metode filosofis untuk menolak (pandangan mengenai) konsepsi-konsepsi fitri. Ia berdasarkan atas kaidah yang menyatakan bahwa suatu ke-bergandaan efek tidak mungkin keluar dari sesuatu yang sederhana. Jiwa adalah sederhana. Karenanya jiwa tidak mungkin menjadi sebab fitri bagi sejumlah konsepsi dan gagasan. Adanya sejumlah besar penggalan pengetahuan dalam jiwa itu disebabkan oleh banyak faktor luar. Yakni indera-indera instrumental dan berbagai sensasi yang terjadi padanya. [9]

Suatu kritik menyeluruh atas hujjah ini menuntut untuk menjelaskan prinsip dasar yang atasnya ia didasarkan, dan memberikan uraian tentang hakikat dan kesederhanaan jiwa. Namun, kesempatan kita sekarang tidak mencukupi.

Kemudian ada penafsiran lain tentang teori rasionalisme, yaitu bahwa gagasan-gagasan fitri ada dalam jiwa secara potensial. Ia mendapatkan sifat aktualnya dengan evolusi dan integrasi mental jiwa. Jadi, konsepsi-konsepsi fitri bukan bersumber dari indera, tetapi ia dikandung oleh jiwa tanpa disadarinya. Namun demikian, dengan integrasi jiwa, ia menjadi pengetahuan dan informasi yang kita ingat kembali, lantas bangkit secara baru sama sekaili, setelah sebelumnya ia tersembunyi dan ada secara potensial. Penafsiran teori rasionalisme semacam ini, tidak mungkin ditolak dengan hujjah filosofis atau bukti ilmiah yang telah disebutkan.

Kali ini dicukupkan sampai disini. Pada Tulisan selanjutnya, kita akan mencoba membahas mengenai teori-teori selanjutnya yang mencoba mengungkap sumber hakiki pengetahuan.


______________________________
1. Untuk teori pengetahuan sebagai pengingatan kembali, lihat Plato, Meno 81c, 85d, 98a; Philebus 34c; Theaetetus 198d.
2. Disebut juga archetypes Plato yang merujuk kepada “bentuk-bentuk” atau “ide-ide”. Itu adalah model-model segala sesuatu. Itu ada1ah realitas-realitas imaterial, tetap, dan primer, yang terpisah, tak terbagi, tak berubah dan tak rusak.
3. Rene Descartes, filosof Prancis. Descartes mengingatkan kita kepada Al-Ghazali yang, dalam menuntut pengetahuan tertentu, memulai dengan meragukan segaja sesuatu. Namun jika meragukan segaia sesuatu, ia harus eksis agar dapat ragu; karena ragu adalah satu bentuk berpikir, dan berpikir berarti eksis. “Aku berpikir, karena itu aku eksis” adalah proporsi pertama yang baginya adalah pasti. Lalu ia mencapai pengetahuan bahwa Tuhan ada karena kepastian pengetahuannya tentang dirinya. Tetapi, menurut definisi, Tuhan itu baik. Karena itu, tak mungkin Ia penipu. Maka ide-ide tentang eksistensi suatu dunia eksternal yang dimaujudkan oleh-Nya pada diri kita tentulah benar. Juga, pandangan terkenal Descartes adalah pandangan tentang dualitas jiwa dan raga. Sebab jiwa itu tak bergantung pada raga, ia dapat survive tanpa raga setelah terpisah dari raga. Karena itu, imortalitas itu mungkin. Tu1isan-tulisan pentingnya ialah Discourse on Method, The Meditations, Principles of Philosophy, The Passions of the Soul dan Rules for the Direction of the Mind.
4. Immanuel Kant, filosof Jerman. Posisi Kant merupakan sintesis rasionalisme dan empi- risisme masa itu. Dalam masterpiece-nya, Critique of Pure Reason, “murni” di sini digunakan dalam arti “a priori” – yaitu, apa-apa yang dapat diketahui tanpa melalui pengalaman inderawi. Kant secara kritis menelaah watak nalar. Ia menyimpulkan bahwa tak ada ide-ide fitri – yaitu ide-ide yang diketahui sebelum pengalaman inderawi apa pun. Namun ini tak membuatnya menyimpulkan seperti yang disimpulkan oleh kaum empirisis, yaitu bahwa segenap pengetahuan adalah produk pengalaman inderawi. Ia menyatakan bahwa fakultas-fakultas sensibilitas dan pemahaman kita memiliki struktur-struktur formal yang mengola pengalaman kita. Ini berarti bahwa kualitas-kualitas tertentu yang kita persepsi pada objek-objek diberikan kepada objek-objek itu dari struktur alami sensibilitas dan pemahaman kita. Sensibilitas memberi kita objek-objek yang tak memiliki regularitas apa pun. Lalu pernahaman mengambil alih dan mengorganisasikan pengalaman inderawi kita sebagai pengalaman akan dunia alami. Pandangan Kant sangat jelas. Regularitas alam adalah kontribusi pemahaman kita sendiri. Ia percaya bahwa pemahaman ini memiliki dua belas konsep atau “kategori” yang bukan diturunkan dari pengalaman inderawi. Terlepas dari pengalaman inderawi, konsep-konsep ini hampa, dan tanpa konsep-konsep ini pengalaman inderawi akan kacau dan takkan dapat dipahami. Aplikabilitas konsep-konsep ini terbatas pada lingkungan pengalaman inderawi. Kant menyimpulkan bahwa metafisika spekulatif itu sia-sia, karena ia berusaha menerapkan konsep-konsep ini pada objek-objek yang ada di luar alam empirikal. Namun upaya tak layak seperti itu merupakan suatu kecenderungan alami pikiran manusia. Kant menulis dua kritik lain, Critique of Practical Reason dan Critique of Judgement, dan juga beberapa karya penting lainnya, seperti Groundwork of Methaphysics of Morals. Namun pemaparan ringkas ini tak mungkin menyinggung ide-ide Kant dalam karya-karya itu. Kami hanya memaparkan secara sekilas pandangan-pandangan utamanya dalam kritik pertama, bukan saja karena merupakan pilar-pilar utama sistem filsafatnya, tetapi juga karena itu adalah yang paling relevan dengan Falsafatuna.
5. Dua belas kategori Kant adalah: (1) kuantitas, yang di bawahnya ada (a) unital, (b) plura- litas dan (c) totalitas; (2) kualitas, yang di bawahnya ada (a) realitas, (b) penafian dan (c) limitasi; (3) hubungan, yang di bawahnya ada (a) inherence dan subsistence (substansi dan widen), (b) kausalitas dan keberuntungan (sebab dan akihat) dan (c) resiprositas komunitas antara agen dan pasien; (4) modalitas, yang di bawahnya ada (a) kemungkinan-kemustahilan, (b) ada-tiada dan (c) keniscayaan-ketakniscayaan (Critique of Pure Reason: Analytic of Concepts, Bab I, B95 dan 106, A70 dan 80).
6. John Locke, filosof Inggris. Ia mengingkari adanya ide-ide fitri – yaitu ide-ide sejak lahir. Menurutnya, sumber segala ide kita adalah pengalaman, yang terdiri atas sensasi dan refleksi. Karya filosofis terkenalnya adalah Essay concerning Human Understanding (1690).
7. George Berkeley, filosof Irlandia. Menurutnya, apa yang disebut Locke sebagai kualitas- kualitas primer atau objektif, seperti jarak, ukuran dan situasi hanya ada dalam benak. Ada berarti ada bagi benak – yaitu menjadi ide, atau menjadi benak. Tulisan-tulisan utamanya: A New Theory of Vision, Treatise concerning the Principles of Human Knowledge dan Three Dialogues between Hylas and Philonous.
8. David Hume adalah filosof asal Skotlandia. Tema sentral filsafatnya begini. Pengalaman terdiri atas kesan dan ide. Kesan lebih hidup daripada, dan sumber, ide. Ada prinsip-prinsip tertentu yang memandu kita dalam mengasosiasi ide-ide. Yaitu persamaan (resemblance), perhampiran (contiguity), serta sebab dan akibat. Pengalaman menghasilkan pada diri kita kebiasaan (custom), yang bertanggung jawab menghubungkan dua peristiwa suksesif secara kausal. Ia membuat pembedaan penting antara hal-hal faktual dan hubungan-hubungan ide-ide. Hanya yang terakhirlah yang melibatkan keniscayaan. Tulisan-tulisan utamanya: Treatise on Human Nature, Enquiry concerning Human Understanding, Enquiry concerning the Principles of Morals, History of England dan Dialogue corcerning Natural Religion.
9. Secara lebih terinci, banyaknya efek menunjukkan: (1) banyaknya agen; (2) banyaknya resipien; (3) tatanan logis di anura efek-efek itu sendiri; atau (4) banyaknya kondisi. Mengenai persoalan kita, tak djragukan bahwa konsepsi, yang sumberya adalah pokok perhatian kita, banyak dan bermacam-macam jenisnya, meskipun agen atau resipiennya tak banyak. Sebab, agen dan resipien konsepsi adalah jiwa, sedangkan jiwa itu simpel. Juga, tak ada tatanan di anura konsepsi-konsepsi. Karena itu, kita tetap harus mengambil penjelasan terakhir, yaitu banyaknya konsepsi bergantung pada kondisi-kondisi eksternal – kondisi-kondisi ini adalah persepsi inderawi yang berbeda-beda.

_______
sumber: alizatrianisepti.blogspot.co.id/

adiclass

Jumlah posting : 8
Join date : 19.02.18

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik