Filsafat Cinta, Cinta Lagi, Cinta Terus

Go down

Filsafat Cinta, Cinta Lagi, Cinta Terus

Post by Admin on Sun Feb 18, 2018 12:27 am

Bila ingin mengukur kedalaman pengetahuan seseorang, salah satunya dapat kita lihat dari nilai dan kualitas bahasa yang diucapkan, atau yang dituangkan dalam tulisan. Contohnya seperti saat seseorang membuat status tulisan di media sosial yang berisi umpatan tentang hal politik misalnya, Akan memiliki nilai berbeda dengan orang yang mengkritisinya secara bijak dan memenuhi standar ilmiah dalam berpendapat.

Begitu pula dalam ikhwal cinta. Cinta kid's jaman now, memiliki kualitas berbeda dengan cinta yang dewasa.

Semakin dewasa umur dan pengetahuan seseorang dalam persoalan cinta, maka mereka akan semakin mengetahui bagaimana 'bentuk' dan 'rupa' cinta. Begitu pula dalam filsafat cinta, filsafat cinta adalah pemikiran-pemikiran yang mencoba menjawab pertanyaan, "apa itu cinta ?" dan ketika rasa cinta itu dituangkan kedalam bahasa, maka umumnya akan berubah menjadi karya sastra.

Lalu sastra sendiri, sederhananya adalah. Seni dalam mengungkapkan sesuatu melaui bahasa. Kita akan menilai bentuk, rupa, dan kualitas cinta dengan membandingkan kondisi cinta dari kedua karya sastra di bawah ini.

PACARAN
Norman Adi Satria

Awalnya saya juga tidak percaya
dan selalu bertanya-tanya
kok bisa
setelah saya tanyai dia
“sudah makan atau belum?”
kami langsung jadian
padahal sekali pun saya
belum pernah menanyainya
“mau makan apa, di mana?”
apalagi
“mau tidak jadi pacar saya?”

mungkin benar kata orang
romantisme yang hakikatnya basa basi
memang tidak diperlukan lagi
oleh cewek modern pemegang gadget
yang makannya serba instan seperti nugget

tiap bangun pagi
handphone saya berbunyi
“sayang….” katanya terlihat di notifikasi
“kok kamu belum nanya aku udah makan atau belum?”

seminggu dua minggu
sebulan dua bulan
saya masih bisa tahan
lama-lama saya makin bertanya-tanya
apa masih relevan ucapan nenek saya
“cu, jangan pacaran, berbahaya!”
nah, kalau pacaran tiap hari cuma nanya
udah makan atau belum
itu bahayanya di mana?

di bulan ke tiga
dia makin sering ngambek
pada puncaknya dia murka
“kamu berubah!” katanya
saya heran, apa yang berubah dari saya?
saya masih saya yang seperti biasanya
“kamu nggak pernah lagi nanyain aku udah makan atau belum!”

saking kesalnya
saya cipok saja bibirnya
“nih, baru pacaran!” ucap saya
sebel saya

eh, dia minta putus
“kamu jahat!” katanya
dua hari kemudian
dia minta balikan
“maafin aku ya.” rengeknya

saya belai rambutnya
“kamu udah makan atau belum?”
“nggak usah nanya itu lagi.”
“terus?”
dia menciumi bibir saya
sampai saya megap-megap

dia buka satu per satu kancing bajunya
dia buka resleting celana saya
“wah, relevan nih, relevan.” ucap saya
“relevan?” tanyanya
“ternyata ucapan nenek masih relevan.”
“apaan sih?”
“berbahaya. pacaran berbahaya.”
“ya udah, nggak jadi aja.” dia tutup lagi resleting saya
“iya… jangan ya, sayang… kita makan aja, yuk.”
“iya… hehehe… by the way, nugget kamu boleh juga.”
“husshh..! berbahaya!”
“oya, tapi pembaca puisimu nanti kecewa lho, adegannya nggak jadi.”
“bodo amat lah!”


CINTA
Jalaludin Rumi

“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya,
Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya.
Setiap orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya,
Kekasih yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai,
Dia begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta
yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan
dia dan mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia
Jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.

Apabila ada orang yang menyatakan cinta, terkadang maknanya berbeda-beda.
Dua karya sastra di atas, kedua-duanya memiliki tema tentang Cinta. Tetapi ternyata, bentuk dan kualitasnya pun berbeda.

Kita telah mengenal jenis-jenis cinta, seperti metta, karuna, medita, asmara, dan birahi. Namun terkadang, kesalahan pemaknaan yang entah bagaimana ceritanya, menjadi terdistorsi bahkan tercampur satu dengan lainnya, sehingga perilaku dalam bercinta menjadi tidak semestinya.


*********


Jika engkau bukan seorang pencinta,
maka jangan pandang hidupmu adalah hidup
Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan
dihitung Pada Hari Perhitungan nanti
Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta,
akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.

-Jalaludin Rumi-


Maka, Bercintalah!





____________
sumber : alizatrianisepti.blogspot.co.id/2018/02/filsafat-cinta-cinta-lagi-cinta-terus.html
avatar
Admin
Admin

Jumlah posting : 9
Join date : 17.02.18

Lihat profil user http://hazrat.indonesianforum.net

Kembali Ke Atas Go down

Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik