Assassin, Seni dalam Membunuh

Go down

Assassin, Seni dalam Membunuh

Post by Admin on Sun Feb 18, 2018 12:51 am

Assasin atau dalam bahasa Arab Al-Hasyasyin adalah satu organisasi dari salah satu cabang Islam Syi’ah Ismailiyah, mereka bermukim di Irak, Iran, Suriah, dan Lebanon di bawah pemimpin karismatik Hasan-i Sabbah.[1]

Dalam Kamus Oxford Assassin adalah “A person who murders an important person for political or religious reasons” (Seseorang yang membunuh orang penting untuk alasan politik atau alasan agama).[2]

Kemudian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Assasin adalah pembunuh, atau orang yang di sewa orang lain untuk membunuh.[3]
Namun menurut penulis Lebanon Amin Maalouf, berdasarkan teks dari Alamut, asal kata Assassin sebenarnya merujuk pada ungkapan Hassan Sabbah yang cenderung memanggil murid-muridnya Asāsīyūn, yang berarti “orang-orang yang setia kepada fundamental keimananan”. Munculnya istilah hashish adalah kesalahpahaman wisatawan asing (Marcopolo) dalam memahami maksud aslinya.[4]


Secara politik, kata hashish (penghisap candu) memang dipilih oleh masyarat yang membenci sekte ini. Dan benar saja, konotasi buruk ini sangat efektif dalam mereduksi tujuan aksi dan propaganda mereka.

Berdirinya Sekte Assassin
Kemunculannya sangat mirip dengan kemunculan berbagai sekte-sekte dalam Islam, salah satunya dikarenakan persoalan politik, dan sekte assasin muncul karena persoalan tersebut pula. Assassin merupakan sekte dari pecahan mazhab Syi’ah Ismailiyah.

Syi’ah Ismailiyah muncul ketika Imam Ja’far As Shadiq (Imam ke-6 Kaum Syi’ah) menunjuk penggantinya sebagai penggantinya menjadi Imam yang ke-7. Dan pilihannya jatuh kepada Imam Musa al-Kadzim, yang kemudian ditaati oleh sebagian besar pengikut Syi’ah (12 Imam). Dari kelompok yang menyepakati kesepakatan tersebut, adapula kelompok yang tidak menyepakatinya, mereka labih menginginkan saudara dari Imam Musa al Kadzim yaitu Ismail menjadi pengganti Imam Ja’far as Shadiq. Para pendukung Ismail inilah yang kemudian disebut dengan sebutan Syi’ah Ismailiyah.


Adalah Hassan-i Sabbah sang pelopor sekte Assasin, Ia lahir pada pertengahan abad ke-11 di kota Qum – Iran. Dia kemudian mengikuti orang tuanya pindah ke kota Rayy (Teheran). Mengikut keyakinan keluarganya, Hassan-i Sabbah menganut faham Syi’ah Itsna Asy’ariyah (Dua Belas Imam). Dalam cuplikan biografinya, sebagaimana dikutip oleh Bernard Lewis dalam bukunya Assassin, Hassan-i Sabbah menulis bahwa “sejak berusia tujuh tahun, aku sudah jatuh hati pada kepada pelbagai cabang ilmu pengetahuan dan bercita-cita menjadi ulama.” Hingga sepuluh tahun berikutnya, dia “menjadi pencari dan penuntut ilmu dengan tetap mempertahankan keyakinan Syi’ah Itsna Asy’ariyah (Dua Belas Imam) yang dianut oleh ayahnya.

Keadaan berubah saat Hassan-i Sabbah bertemu dengan seorang ulama Syi’ah dari sekte Ismailiyah bernama Amira Darrab seorang Rafiq (sahabat) merujuk pada istilah yang digunakan di kalangan Syi’ah Ismailiyah. Hassan-i Sabbāh pada awalnya menolak pandangan-pandangan Amira Darrab. Namun kepribadiannya yang menarik dan kepandaiannya berargumen membuat keyakinan Hassan-i Sabbāh akhirnya goyah. Dia pun berpindah keyakinan kepada sekte Ismailiyah yang pada masa itu memang lebih dominan dibandingkan Itsna Asy’ariyah. Pada pertengahan tahun 1072, Hassan-i Sabbāh di baiat oleh pimpinan dai Syi’ah Ismailiyah di Persia Barat dan Irak, Abdul Malik bin Attasy.[5]

Empat tahun kemudian, Hassan i Sabbah melakukan perjalanan dari Rayy menuju Isfahan. Kemudian Ia ke Kairo – Mesir, tempat bersemayamnya Daulah Fatimiyah (salah satu dinasti Syi’ah)[6] sekaligus pusat pemerintahan Syi’ah Ismailiyah ketika itu. Hassan-i Sabbah sampai di Kairo pada pertengahan tahun 1078. Ia menetap tiga tahun di kota itu dan juga di kota Alexandria. Belakangan Hassan-i Sabbah berseteru dengan seorang Wazir[7] bernama Badr al-Jamali yang menyebabkan Hassan-i Sabbah terpaksa pergi meninggalkan Mesir dan kembali ke Persia.

Syiah Ismailiyah lebih memilih jalan perlawanan terhadap dinasti Abbasiyah, dan mendirikan dinasti Fatimiyah pada tahun 909 M. Pada tahun 969 M mereka berhasil menaklukkan Mesir dan mendirikan kota Kairo serta menjadikannya sebagai ibu kota dinasti Fatimiyah. Ditempat ini, mereka berhasil mendirikan satu peradaban Islam yang disegani. Bahkan Universitas Kairo merupakan salah satu tujuan favorit pada pencari ilmu masa itu.[8]

Namun saat memasuki masa perang Salib, pamor mereka kalah dibandingkan dengan kaum Sunni. Setelah Salahuddin Al Ayubi berhasil merebut Yerusalem dari Tentara Salib, dan berhasil membunuh pemimpin terakhir Khilafah Fatimiyah dan membangun Dinasti Ayubiyah, sebagian dari sisa pengikut dinasti Fatimiyah ada yang selamat dan lari ke wilayah Barat di Persia. Mereka kemudian mendirikan komunitas tersendiri yang dikenal dengan sekte Hashashin.[9]

Assassin bermarkas di sebuah dataran tinggi dengan ketinggian 6.980 kaki diatas permukaan laut. Pada wilayah ujung barat pegunungan Alborz, dan berada di antara dataran kering Qazvin di selatan dan lereng berhutan provinsi Mazandaran di utara. Di kawasan ini terdapat dua benteng Ismaili yang besar, yaitu Kastil Lambsar dan Alamut. Dalam benteng Alamut (Sarang elang) inilah para Assassin bermarkas. Karena mereka memiliki tempat yang begitu tinggi, maka mereka dapat dengan mudah dalam mengantisipasi serta menangkal sereangan sedini mungkin.


Benteng tersebut dibangun dengan bahan-bahan bebatuan yang kokoh, tertutup dan berada di lokasi strategis. Inilah tempat yang menjadi pusat pengumpulan intelijen, pendidikan tinggi, serta pelatihan para anggota tentang teknik penculikan, serangan dan pembunuhan. Benteng tersebut memberi kerahasiaan mutlak sekte Assassin dari musuh-musuhnya. Bahkan, pimpinan dan pendiri sekte ini, Hassan Sabbah, tidak banyak yang mengetahui identitasnya. Konon, sejak memasuki benteng ini, ia hanya pernah sekali-dua keluar, selebihnya ia memerintahkan semua aksi sektenya dari dalam benteng ini, hingga ia juga wafat disini. Masyarakat sekitar mengenalnya hanya dengan sebutan “orang tua dari gunung”.[10]

Pada aspek keorganisasian, mereka mengenal adanya Pemimpin Besar yang tidak lain adalah Hasan Sabbah sendiri. Jenjang dibawahnya secara berturut-turut adalah, Guru Besar yang bertugas melakukan propaganda besar, Rafik (sahabat) yang tugasnya melakukan propaganda normal, dan Lasiq (pengikut). Lasiq adalah anggota, yang setelah dilatih akan mengemban amanat sebagai eksekutor lapangan yang berjulukan “Fidai”.[11]
Menurut Syed Ameer Ali, di kemudian hari hirarki Hashashin ini diadopsi oleh salah satu sekte Kristen yang terkenal dengan Templar.[12]

Kemampuan Menyelesaikan Misi
Dunia telah mengenal mengenai cara menyingkirkan lawan politik dengan cara membunuh para kompetitor dibidang politik. Assassin menjadi dikenal diseluruh dunia karena kemunculannya pada masa awal perang salib, yang ketika itu interaksi antara kekuatan dunia saling bertemu dan kacaunya dinamika politik pada masa itu.

Assassin melakukan tugasnya dengan cara yang eksklusif, akurat dan elegan, sehingga membuat sekte yang dapat dikatakan kecil ini menjadi perhitungan musuh-musuhnya. Dapat diinfentarisir, hampir semua Imperium pada masa itu pernah menjadi korban sekte Assassin, diantaranya yaitu Dinasti Fatimiyah, Abbasiyah, Mongolia, Inggris hingga Yerusalem.

Sekte inilah yang membuat dunia mengenal trik dan seni pembunuhan dengan akurasi tinggi. Target mereka adalah orang-orang penting dan berpengaruh, yang eksekusinya dilakukan di depan publik, namun dengan teknik yang begitu rapih, sehingga mereka mampu pergi tanpa meninggalkan jejak. Kalaupun tertangkap, anggota kelompok Hashashin siap menanggung resiko disiksa hingga dibunuh. Rangkaian pembunuhan yang mereka lakukan memunculkan nuansa teror ke seantero negeri, bahkan mengubah arah sebuah peperangan dan jalannya sebuah dinasti.[13]

Kaum Assassin juga termasuk kelompok pertama yang menggunakan sinyal pantulan cermin di siang hari untuk berkomunikasi dengan basis terdekat, khususnya sekitar alamut. Di malam hari mereka menggunakan sinyal api.

Kaum Hasshashin seringkali menerima kontrak dari pihak luar. Richard the Lionheart adalah salah satunya yang dicurigai membayar mereka untuk membunuh Conrad de Montferrat. Dalam banyak kasus, kaum Hashshashin digunakan untuk mempertahankan keseimbangan musuh mereka. Korban-korban yang terkenal diantaranya Wazir Abbasiyah yang terkenal Nizam al-Mulk (1092), Wazir Fatimiah al-Afdal Shahanshah (1122)(bertanggung jawab memenjarakan kaum Nizari), Ibn al-Khashshab dari Aleppo (1125), al-Bursuqi dari Mosul (1126), Raymond II dari Tripoli (1152), Conrad de Montferrat (1192), dan pangeran Edward (kemudian menjadi Edward I dari Inggris) terluka oleh pisau beracun Hashshashin pada tahun 1271.[14]



____________
[1] C. S. Lewis's, Case for Christ: Insights from Reason, Imagination and Faith, 2005, InterVarsity Press, hlm 145.
[2] https://en.oxforddictionaries.com/definition/assassin, diakses pada tanggal 7 Januari 2018.
[3] http://www.kamuskbbi.id/inggris/indonesia.php?mod=view&assassin&id=2002-kamus-inggris-indonesia.html, diakses pada tangga 7 Januari 2018.
[4] Ḥasan II “ʿalā ḏekrehe’l-salām” (1166)—4th Lord of Alamut (1162—1166)
[5] Ismailiyah (bahasa Arab: al-Isma iliyyun; bahasa Urdu: Ismai li, bahasa Persia: Esma iliyan) adalah mazhab dengan jumlah penganut kedua terbesar dalam agama Syi’ah, setelah mazhab Dua Belas Imam (Itsna ‘Asyariah). Sebutan Ismailiyah diperoleh pengikut mazhab ini karena penerimaan mereka atas keimaman Isma’il bin Ja’far sebagai penerus dari Ja’far ash-Shadiq. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ismailiyah, diakses pada tanggal 7 Januari 2018.
[6] Fatimiyah, atau al-Fathimiyyun ialah penguasa Syiah yang berkuasa di berbagai wilayah di Maghreb, Mesir, dan Syam dari 5 Januari 910 hingga 1171. Negeri ini dikuasai oleh Ismailiyah, salah satu cabang Syi’ah. Pemimpinnya juga para imam Syiah, jadi mereka memiliki kepentingan keagamaan terhadap Isma’iliyyun. Kadang dinasti ini disebut pula dengan Bani Ubaidillah, sesuai dengan nama pendiri dinasti. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Fatimiyah, diakses pada tanggal 7 Januari 2018
[7] Seorang Wazir (dalam berbagai bahasa disebut sebagai Vazir, Vizir, Vasir, Vizier, Vesir, atau Vezir), secara harfiah berarti “pembantu”, adalah sebuah istilah Persia untuk seorang penasihat atau menteri politik (kadang-kadang keagamaan) berkedudukan tinggi, biasanya ditemui dalam sistem monarki Syi’ah seperti Khalifah, Amir, Malik (raja) atau Sultan. Silahkan baca https://id.m.wikipedia.org/wiki/Wazir, diakses pada tanggal 7 Januari 2018.
[8] https://ganaislamika.com/assassin-2-asal-usul-dan-legenda/, diakses pada tanggal 7 Januari 2018
[9] ibid
[10]http://materiaislamica.com/index.php/History_of_the_Ismai%27ili_Assassin_Society_(c._1080%E2%80%941275)#cite_note-Curtin2008-27, diakses pada tanggal 7 Januari 2018
[11] Nur-al-Din Muḥammad (1210)—5th Lord of Alamut (1166—1210)
[12] Jalāl-al-Din Ḥasan (1221)—6th Lord of Alamut (1210—1221)
[13] https://ganaislamika.com/assassin/, diakses pada tanggal 7 Januari 2018
[14] https://id.wikipedia.org/wiki/Hassasin#cite_ref-1, diakses pada tanggal 7 Januari 2018



____________
sumber : http://alizatrianisepti.blogspot.co.id/2018/01/assasin-seni-dalam-membunuh.html
avatar
Admin
Admin

Jumlah posting : 9
Join date : 17.02.18

Lihat profil user http://hazrat.indonesianforum.net

Kembali Ke Atas Go down

Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik